03096 2200229 4500001001900000005001500019035001800034007000300052008003900055082000700094084001300101100001600114245017200130250001000302260004600312520243600358600001202794990001502806990001502821990001502836990001502851INLIS000000000994220260520083334 a0010-03260190ta260520 | | |  a12 a12 ANI p0 aANISA UMAMI1 aPola Komunikasi Mahasiswa dalam Lingkungan Sosial Multikultural Perguruan Tinggi di Kota Palangka Raya (Studi Fenomenologi Edmund Husserl) / ANISA UMAMI /cANISA UMAMI aCet 1 aPalangka Raya :bPerpustakaan UMPR,c2026 aPenelitian ini membahas pola komunikasi mahasiswa dalam lingkungan sosial multikultural di perguruan tinggi Kota Palangka Raya. Kota Palangka Raya sebagai kota migrasi menghadirkan realitas sosial yang multikultural, di mana mahasiswa berasal dari beragam latar belakang budaya, etnis, bahasa, dan kebiasaan. Kondisi tersebut menciptakan ruang interaksi yang intens sekaligus berpotensi memunculkan perbedaan cara berkomunikasi, stereotip, serta hambatan komunikasi antarbudaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi Edmund Husserl, yang menempatkan pengalaman subjektif mahasiswa sebagai pusat analisis. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap enam narasumber mahasiswa dari tiga perguruan tinggi di Kota Palangka Raya, yaitu Universitas Muhammadiyah Palangkaraya, Universitas Palangka Raya, dan Universitas Islam Negeri Palangka Raya. Analisis data dilakukan dengan memahami makna pengalaman komunikasi mahasiswa sebagaimana dialami dan dimaknai secara langsung oleh subjek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola komunikasi mahasiswa dalam lingkungan multikultural tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses adaptasi yang bertahap. Pada tahap awal interaksi, mahasiswa cenderung mengalami kecemasan dan ketidakpastian akibat perbedaan bahasa, logat, gaya bicara, norma sosial, serta kebiasaan budaya. Seiring dengan meningkatnya intensitas interaksi, mahasiswa mulai mengembangkan pola komunikasi yang lebih terbuka, adaptif, dan reflektif. Penelitian ini juga menemukan bahwa stereotip dan etnosentrisme masih muncul dalam interaksi sosial mahasiswa, baik secara verbal maupun nonverbal. Namun, pengalaman tersebut dimaknai secara beragam oleh mahasiswa, mulai dari rasa tidak nyaman hingga menjadi proses pembelajaran dalam memahami realitas sosial yang multikultural. Dengan menggunakan kerangka teori komunikasi antarbudaya Gudykunst dan Kim, penelitian ini menegaskan bahwa faktor budaya, sosiobudaya, psikobudaya, dan lingkungan turut membentuk pola komunikasi mahasiswa. Melalui pendekatan fenomenologi Edmund Husserl, penelitian ini menyimpulkan bahwa pola komunikasi mahasiswa dalam lingkungan sosial multikultural di perguruan tinggi Kota Palangka Raya merupakan pola komunikasi adaptif, yang berkembang dari tahap awal penuh kehati-hatian menuju komunikasi yang lebih inklusif, saling menghargai, dan berorientasi pada pemahaman lintas budaya. 4aSKRIPSI a2212026127 a2212026127 a2212026127 a2212026127