Peran Kepala Sekolah dalam Menanamkan Budaya Berbasis Nilai-Nilai Keislaman di Sekolah Dasar Islam Nurul Ihsan Palangka Raya / AHMAD YUSRINNOR /
AHMAD YUSRINNOR
text
Palangka Raya : Perpustakaan UMPR,
2026
|
Penelitian ini dimulai dari Penanaman budaya berbasis nilai-nilai keislaman di sekolah, hal tersebut merupakan salah satu upaya penting dalam membentuk karakter peserta didik yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Keberhasilan pelaksanaan budaya tersebut sangat dipengaruhi oleh peran kepala sekolah sebagai pemimpin yang bertanggung jawab dalam mengarahkan, membina, dan menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung internalisasi nilai-nilai keislaman. Oleh karena itu, diperlukan kajian yang mendalam mengenai peran kepala sekolah dalam menanamkan budaya berbasis nilai-nilai keislaman di lingkungan sekolah dasar Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran kepala sekolah sebagai leader, educator, dan climate creator dalam menanamkan budaya berbasis nilai-nilai keislaman di SDI Nurul Ihsan Palangka Raya serta mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research). Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas kepala sekolah, wakil kepala kesiswaan, guru, dan peserta didik. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah berperan sebagai leader melalui kegiatan perencanaan, koordinasi, pengawasan, dan evaluasi program budaya berbasis nilai-nilai keislaman. Sebagai educator, kepala sekolah melakukan pembinaan, pengarahan, dan keteladanan kepada guru dalam menanamkan nilai-nilai keislaman kepada peserta didik. Sebagai climate creator, kepala sekolah menciptakan lingkungan sekolah yang religius melalui berbagai kegiatan pembiasaan seperti salat berjamaah, tahfiz Al-Qur'an, sedekah Jumat, budaya salam dan salim, serta kegiatan keagamaan lainnya. Faktor pendukung dalam pelaksanaan budaya berbasis nilai-nilai keislaman meliputi komitmen kepala sekolah, keterlibatan guru, dukungan orang tua, dan ketersediaan sarana prasarana. Adapun faktor penghambat berasal dari perbedaan latar belakang keluarga peserta didik dan kurang optimalnya pembiasaan nilai-nilai keislaman di lingkungan.
SKRIPSI