Evaluasi Pengendalian Biaya & Waktu Menggunakan Metode Pert (Project Evaluation & Riview Technique) (Studi Kasus: Pembangunan Basecamp Distrik Samuda, Kab. Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah) / ADNES INDRA AULIYANITA / ADNES INDRA AULIYANITA text Palangka Raya : Perpustakaan UMPR, 2026 | Manajemen waktu dan biaya merupakan aspek krusial dalam keberhasilan suatu proyek konstruksi, di mana keterlambatan sering kali berdampak pada pembengkakan biaya dan menurunnya efisiensi. Penelitian ini berfokus pada Proyek Pembangunan Basecamp Distrik Samuda, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, khususnya pada item pekerjaan pembangunan Kantor Distrik. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kinerja pelaksanaan proyek yang sedang berjalan serta melakukan penjadwalan ulang (rescheduling) menggunakan metode PERT (Project Evaluation and Review Technique) guna mengembalikan jadwal proyek ke lintasan yang tepat dengan biaya dan waktu yang paling optimal. Metode yang digunakan untuk mengatasi permasalahan ini adalah PERT dengan pendekatan diagram jaringan Activity On Node (AON). Tahapan analisis meliputi perhitungan expected time (berdasarkan waktu optimis, pesimis, dan paling mungkin), penentuan lintasan kritis, perhitungan varians, hingga probabilitas penyelesaian proyek menggunakan nilai distribusi normal (Z). Penjadwalan ulang dilakukan dengan merancang tiga percobaan yang menerapkan metode crashing, yakni dengan cara menambahkan jam kerja (lembur) dan jumlah tenaga kerja khusus pada aktivitas – aktivitas pekerjaan yang berada di dalam jalur kritis. Hasil analisis dari ketiga percobaan rescheduling menunjukkan variasi durasi percepatan dan peningkatan biaya yang signifikan. Pada percobaan 1, diperoleh durasi normal 77 hari dengan waktu penyelesaian kritis 75 hari dan biaya kritis sebesar Rp92.990.000,00 (probabilitas penyelesaian 88,30%). Percobaan 2 menghasilkan durasi normal 70 hari dengan waktu kritis 62 hari dan peningkatan biaya kritis menjadi Rp213.394.166,67 (probabilitas 99,99%). Sementara itu, percobaan 3 menghasilkan durasi percepatan tertinggi yakni durasi normal 63 hari dengan waktu kritis 53 hari, namun membutuhkan biaya kritis tertinggi sebesar Rp215.783.888,89 (probabilitas 99,99%). Seluruh percobaan menunjukkan lintasan kritis yang sama, yaitu pada rangkaian kegiatan A-B-C-F-G-H. SKRIPSI