Analisis Kinerja Simpang Tidak Bersinyal pada Simpang 4 Natai Pelingkau di Kabupaten Kotawaringin Barat / AJI PURNOMO / AJI PURNOMO text Palangka Raya : Perpustakaan UMPR, 2026 | Simpang 4 Natai Pelingkau di Kabupaten Kotawaringin Barat merupakan titik krusial yang saat ini beroperasi sebagai simpang tidak bersinyal. Pertumbuhan ekonomi dan peningkatan mobilitas penduduk telah memicu lonjakan volume kendaraan yang tidak sebanding dengan kapasitas simpang, sehingga menyebabkan penumpukan antrean dan penurunan tingkat pelayanan yang signifikan. Mengingat tren peningkatan volume lalu lintas di masa depan, kondisi saat ini yang hanya mengandalkan prioritas arus utama dinilai kurang optimal untuk menjamin keteraturan pergerakan kendaraan, efisiensi arus, serta keselamatan pengguna jalan. Penelitian ini mengacu pada Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) 2023. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif melalui survei langsung di lapangan guna mengumpulkan data geometrik, volume lalu lintas, dan hambatan samping selama jam puncak. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kondisi eksisting, Simpang 4 Natai Pelingkau memiliki kapasitas sebesar 3.845 smp/jam dengan nilai derajat kejenuhan (DJ) 0,57. Tundaan rata-rata yang dihasilkan mencapai 10,98 detik/smp dengan peluang antrean berkisar antara 14% hingga 30%, sehingga tingkat pelayanan simpang saat ini masih berada pada kategori B. Sebagai langkah antisipatif, penelitian ini merekomendasikan pemasangan Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL) pada simpang tersebut. Simpang 4 Natai Pelingkau di Kabupaten Kotawaringin Barat merupakan titik krusial yang saat ini beroperasi sebagai simpang tidak bersinyal. Pertumbuhan ekonomi dan peningkatan mobilitas penduduk telah memicu lonjakan volume kendaraan yang tidak sebanding dengan kapasitas simpang, sehingga menyebabkan penumpukan antrean dan penurunan tingkat pelayanan yang signifikan. Mengingat tren peningkatan volume lalu lintas di masa depan, kondisi saat ini yang hanya mengandalkan prioritas arus utama dinilai kurang optimal untuk menjamin keteraturan pergerakan kendaraan, efisiensi arus, serta keselamatan pengguna jalan. Penelitian ini mengacu pada Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) 2023. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif melalui survei langsung di lapangan guna mengumpulkan data geometrik, volume lalu lintas, dan hambatan samping selama jam puncak. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kondisi eksisting, Simpang 4 Natai Pelingkau memiliki kapasitas sebesar 3.845 smp/jam dengan nilai derajat kejenuhan (DJ) 0,57. Tundaan rata-rata yang dihasilkan mencapai 10,98 detik/smp dengan peluang antrean berkisar antara 14% hingga 30%, sehingga tingkat pelayanan simpang saat ini masih berada pada kategori B. Sebagai langkah antisipatif, penelitian ini merekomendasikan pemasangan Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL) pada simpang tersebut. SKRIPSI