Page 176 - BK PRIBADI SOSIAL Biblioterapi, Melalui Kisah Pribadi Diasah
P. 176
Sejak itu, Rabi'ah bersungguh-sungguh beribadah, agar
mendapatkan keuntungan menemani Rasulullah di surga,
sebagaimana keuntungannya melayani beliau di dunia.
Tidak berapa lama kemudian Rasulullah SAW
memanggilnya. "Apakah engkau tidak hendak menikah, hai
Rabi'ah?" tanya beliau.
"Saya tak ingin ada sesuatu yang menggangguku dalam
berkhidmat kepada Anda, ya Rasulullah. Di samping itu, saya
tidak mempunyai apa-apa untuk mahar kawin, dan untuk
kelangsungan hidup berumah tangga," jawab Rabi'ah.
Rasulullah diam sejenak. Tidak lama kemudian beliau
memanggil Rabi'ah kembali seraya bertanya, "Apakah
engkau tidak hendak menikah, ya Rabi'ah?" Dan Rabi'ah
kembali menjawab seperti seperti semula. Hingga ketiga
kalinya Rasulullah memanggil dan bertanya serupa. Rabi'ah
menjawab, "Tentu, ya Rasulullah. Tetapi, siapakah yang mau
kawin denganku, keadaanku seperti yang Anda maklumi."
"Temuilah keluarga Fulan. Katakan kepada mereka bahwa
Rasulullah menyuruhmu kalian supaya menikahkan anak
perempuan kalian, si Fulanah dengan engkau."
Dengan malu-malu Rabi'ah datang ke rumah mereka
dan menyampaikan maksud kedatangannya. Tuan rumah
menjawab, "Selamat datang ya Rasulullah, dan dan selamat
datang utusan Rasulullah. Demi Allah, utusan Rasulullah
tidak boleh pulang, kecuali setelah hajatnya terpenuhi!"
Rabi'ah bin Ka'ab kemudian menikah dengan anak gadis
tersebut. Dan Rasulullah juga menghadiahkan sebidang
kebun kepadanya, berbatasan dengan kebun Abu Bakar Ash-
Shiddiq. Suatu ketika, Rabi'ah sempat berselisih dengan Abu
Bakar mengenai sebatang pohon kurma. Rabi'ah mengaku
165

