Page 96 - Cyberbullying & Body Shaming
P. 96

Cyberbullying & Body Shaming


            mengherankan bahwa para peneliti sedang menyelidiki pendahuluan
            dan emanasi emosi sadar diri mengenai tubuh (Castonguay, Brunet,
            Ferguson,  &  Sabiston,  2012;  Noll  &  Fredrickson,  1998;
            Ottesen.2016).
                  Ketakutan  berlebihan  dievaluasi  secara  negatif  atau  dinilai
            tidak  diinginkan  oleh  orang  lain  dapat  menumbuhkan  perasaan
            ketidakmampuan,  penghinaan,  rasa  malu,  rendah  diri  dan  depresi.
            Pada  dasarnya  konsep  mempermalukan  dan  kecemasan  sosial
            tumpang tindih sejauh itu membuat orang rentan kedudukan sosial
            mereka,  kehilangan  daya  tarik,  penolakan  dan  atau  kritik.
            Perbandingan antara kecemasan sosial antara laki-laki dan laki-laki
            perempuan telah dilakukan untuk  waktu  yang lama. Ada beberapa
            penelitian  yang  melaporkan  wanita  lebih  menderita  kecemasan
            sosial  dari  rekan  pria.  Namun,  beberapa  penelitian  melaporkan
            bahwa  wanita  memiliki  skor  lebih  tinggi  daripada  pria  yang
            menunjukkan  perbedaan  signifikan jenis  kelamin  (Calabello  et  al.,
            2014; Agarwal, T. and Banerjee, A.2018).

            Karakteristik Cyberbullies Pada Body shaming
                  Implikasi  besar  dari  akses  publik  tanpa  batas  ke  Internet
            adalah cyberbullies sekarang memiliki platform untuk secara publik
            mempermalukan orang dari belakang privasi layar mereka, sehingga
            menggambarkan  kurangnya  empati.  Menggunakan  komentar
            menyakitkan,  cyberbullies  mengalihkan  perhatian  dari  rasa  tidak
            aman  mereka  sendiri.  Dengan  menyoroti  ketidaksempurnaan
            cybervictim  terlebih  dahulu,  cyberbullies  dapat  menghindari  rasa
            tidak  aman  pribadi  mereka  mendapat  perhatian  publik  (Stacey,
            2017).
                  Percobaan survey dilakukan oleh empat psikolog, sekelompok
            siswa  harus  mengisi  kuesioner  cyberbullying  dan  sebuah  skala




                                                                            89
   91   92   93   94   95   96   97   98   99   100   101