Page 221 - Bibliospiritual Menemukan Makna Dalam Kata Terbaca
P. 221
Lelah dan kedinginan ia mengetuk rumah putrinya dan
ternyata purtinya sendiri yang membukakan pintu rumah
gedong di mana putrinya tinggal. Apakah ucapan selamat
datang yang diucapkan putrinya ? Apakah rasa bahagia
bertemu kembali dengan ibunya? Tidak! Bahkan ia ditegor:
"Kamu sudah bekerja di rumah kami puluhan tahun sebagai
pembantu, apakah kamu tidak tahu bahwa untuk pembantu
ada pintu khusus, ialah pintu di belakang rumah!" "Nak, Ibu
datang bukannya untuk bertamu melainkan hanya ingin
memberikan hadiah ulang tahun untukmu. Ibu ingin
melihat kamu sekali lagi, mungkin yang terakhir kalinya,
bolehkah saya masuk sebentar saja, karena di luaran dingin
sekali
dan sedang turun salju. Ibu sudah tidak kuat lagi nak!"
kata wanita tua itu. "Maaf saya tidak ada waktu, di samping
itu sebentar lagi kami akan menerima tamu seorang pejabat
tinggi, lain kali saja. Dan kalau lain kali mau datang telepon
dahulu, jangan sembarangan dating begitu saja!" ucapan
putrinya dengan nada
kesal. Setelah itu pintu ditutup dengan keras. Ia
mengusir ibu kandungnya sendiri, seperti juga mengusir
seorang pengemis. Tidak ada rasa kasih, jangankan kasih,
belas kasihanpun tidak ada.
Setelah beberapa saat kemudian bel rumah bunyi lagi,
ternyata ada orang mau pinjam telepon di rumah putrinya
"Maaf Bu, mengganggu, bolehkah kami pinjam teleponnya
sebentar untuk menelpon ke kantor polisi, sebab di halte
bus di depan ada seorang nenek meninggal dunia, rupanya
ia mati kedinginan!" Wanita tua ini mati bukan hanya
kedinginan jasmaniahnya saja, tetapi juga perasaannya. Ia
sangat mendambakan sekali kehangatan dari kasih sayang
208 | Bibliospiritual: Menemukan Makna dalam Kata Terbaca

