Page 226 - Bibliospiritual Menemukan Makna Dalam Kata Terbaca
P. 226
perbuatan yang dilakukannya selama ini. Ia kemudian
berkata, “Tidak mungkin… tidak mungkin semua itu aku
lakukan.” “Wahai hamba Allah, bila kau tidak sanggup
mengundurkan hari kematianmu, lalu dengan cara apa kau
dapat menghindari murka Allah?”
Tanpa banyak komentar lagi, ia bertanya syarat yang
kelima, yang merupakan syarat terakhir. Ibrahim bin
Adham untuk kesekian kalinya memberi nasihat kepada
lelaki itu. “Yang terakhir, bila malaikat Zabaniyah hendak
menggiringmu ke neraka di hari kiamat nanti, janganlah
kau bersedia ikut dengannya dan menjauhlah!” Lelaki itu
nampaknya tidak sanggup lagi mendengar nasihatnya. Ia
menangis penuh penyesalan. Dengan wajah penuh sesal ia
berkata, “Cukup-cukup ya Aba Ishak! Jangan kau teruskan
lagi. Aku tidak sanggup lagi mendengarnya. Aku berjanji,
mulai saat ini aku akan beristighfar dan bertaubat nasuha
kepada Allah.”
Jahdar memang menepati janjinya. Sejak
pertemuannya dengan Ibrahim bin Adham, ia benar-benar
berubah. Ia mulai menjalankan ibadah dan semua perintah-
perintah Allah dengan baik dan khusyu’. Ibrahim bin Adham
yang sebenarnya adalah seorang pangeran yang berkuasa di
Balakh itu mendengar bahwa di salah satu negeri
taklukannya, yaitu negeri Yamamah, telah terjadi
pembelotan terhadap dirinya. Kezaliman merajalela. Semua
itu terjadi karena ulah gubernur yang dipercayainya untuk
memimpin wilayah tersebut.
Selanjutnya, Ibrahim bin Adham memanggil Jahdar bin
Rabi’ah untuk menghadap. Setelah ia menghadap, Ibrahim
pun berkata, “Wahai Jahdar, kini engkau telah bertaubat.
Alangkah mulianya bila taubatmu itu disertai amal
Bibliospiritual: Menemukan Makna dalam Kata Terbaca | 213

