Page 210 - Menelisik Pemikiran Islam
P. 210
bahwa ia memang tak memiliki apa-apa kecuali buku-buku.
Beberapa alat kecil untuk keperluan hidup sehari-hari yang
ada di rumahnya adalah milik istrinya. Dua karpet bekas
yang ada bukanlah milik pribadinya dan harus
disedekahkan kepada orang miskin setelah ia wafat. Maka
tinggallah untuk ahli warisnya sebagai yang mendapatkan
darinya sebagai seorang imam besar, pemimipin revolusi,
pemimpin negara Islam yang ia gagas, mujtahid besar, dan
ulama terpandang dalam mata dunia saat itu berupa
warisan benda-benda yang mungkin sangat murah sekali,
kacamata, alat pemotong kuku, tasbih, mushaf al Quran,
sajadah, surban, jubah ulama, dan beberapa buku. Itulah
sang Imam, begitu sederhana dan bersahajanya sekali
dalam sebuah negara minyak yang sangat kaya raya.
Khomeini yang telah mengubah secara total pola hidup
masyarakat Iran, dari hidup kebarat-baratan kehidupan
yang religius, sangat dicintai dan dipatuhi rakyatnya
apapun yang diperintahkannya, sekalipun ia tidak diyakini
sebagai manusia yang maksum (suci dan terpelihara dari
berbuat dosa), segera akan diturutinya rakyatnya. Ketika ia
meninggal dunia, ber-juta-juta rakyat Iran
mengantarkannya ketempat peristirahatannya terakhir di
perkuburan Bihisyti Zahra, diluar kota Theran. Di sekitar
makamnya dibangun masjid yang amat megah dengan
kubah indah yang berlapiskan emas murni.
Khomeini meninggalkan seorangn putra, yaitu Ahmad
Khomeini, dan tiga orang putri. Sebenarnya khomeini
mempunyai dua orang putra. Putranya yang lain, Mustofa
khomeini, salah seorang ulama yang cukup menonjol, telah
lebih dahulu meninggal karena dibunuh agen-agen rezim
Syi’ah pahlevi (1977), ketika ia bersama ayahnya berada
dalam penga-singan di Irak.
Menelisik Pemikiran Islam | 203

