Page 310 - Menelisik Pemikiran Islam
P. 310
dapat melihat situasi dan kebutuhan masyarakat modern
sekarang ini. Dari para 'ulama itu, dituntut pengetahuan
tentang apa itu dunia modern dan problematikanya, supaya
tidak terkurung hanya dalam ajaran-ajaran tradisional.
Sementara itu, syari'ah juga harus disesuaikan dengan
situasi baru. Antara syari'ah (hukum Islam) dan hukum
alam (ilmu pengetahuan) yang dikembangkan di Eropa
dianggap tidak banyak perbedaannya secara prinsipil.
Karena itu, pendidikan modern adalah suatu keharusan
untuk umat Islam. Juga untuk "memperbaharui" syari'ah
itu.
Demikianlah, sampai sebelum Jamal al-Din al-Afghani
(1839-1897), Muhammad 'Abduh dan Muhammad Rasyd
Ridla (1865-1935), kesadaran bahwa Islam itu--maksudnya
tentu saja pemahaman kaum Muslim terhadap Islam--harus
"dimodernkan" atau "dirasionalkan" sudah menjadi
kesadaran umum para cendekiawan Muslim. Dan ini telah
menimbulkan gerakan yang oleh Fazlur Rahman disebut
sebagai "gerakan modernisme awal." Oleh karena itu pula,
Tahtawi dan seluruh kawan-kawannya yang sezaman, telah
melihat bahwa Eropa adalah sumber ide dan penemuan
yang tak terelakkan. Maka, Islah harus belajar dari Barat!
Memang, mereka pun menyadari bahaya yang bisa
muncul dari proses "pembaratan" ini. Tetapi, mereka juga
yakin bahwa kekuatan gagasan yang progresif dari Barat
itu, juga akan mampu mengatasi masalah yang akan
muncul. Apalagi, bertepatan dengan munculnya gagasan-
gagasan itu, secara politis Ottoman mengalami
kemunduran.
Selanjutnya, masalah menjadi lain ketika Afghani,
'Abduh dan Rasyd Ridha hidup. Masalah yang dihadapi
Menelisik Pemikiran Islam | 303

