Page 21 - Model Pembelajaran Kwu-Kop
P. 21
dan kekurangan, di antaranya: (1) Alokasi waktu untuk mata
pelajaran kewirausahaan sangatlah kurang yaitu hanya 2 X 45
menit/minggu, sehingga pembelajaran kewirausahaan cenderung
diberikan secara teori, sementara pembelajaran praktik dan
implementasi wirausaha belum dilaksanakan secara optimal; (2)
Strategi pembelajaran yang masih konvensional sehingga kurang
dapat meningkatkan kreatifitas dan motivasi siswa; (3) Sarana dan
prasarana praktik yang masih belum menunjang; (4) Terbatasnya
bahan ajar, modul, job sheet atau alat yang bisa membantu kerja
praktik siswa secara mandiri; (5) Terbatasnya buku panduan bagi
guru dalam pelaksanaan pembelajaran, sehingga guru mengajar
monoton, kurang inovasi kadang sesuai keinginannya sendiri.
Menurut SK bersama Departemen Transmigrasi dan Koperasi
dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, tujuan
pembentukan Koperasi sekolah adalah: (1) Mendidik,
menanamkan, dan memelihara suatu kesadaran hidup bergotong
royong dan setia kawan serta jiwa demokratis diantara para siswa;
(2) Memupuk dan mendorong tumbuhnya kesadaran serta
semangat Koperasi dikalangan para siswa; (3) Meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan Koperasi dikalangan anggota yang
berguna bagi para siswa untuk bekal terjun dimasyarakat; (4)
Menunjang program pembangunan pemerintah di sektor
perkoperasian melalui program pendidikan sekolah; (5) Membantu
dan melayani pemenuhan kebutuhan ekonomi para siswa melalui
pengembangan pembagian kegiatan usaha.
Kesimpulan
Pembelajaran kewirausahaan masih belum optimal dalam
meningkatkan keterampilan kewirausahaan pada siswa SMK. Salah
satu kendala yang dihadapi adalah belum difungsikannya Koperasi
sekolah secara optimal sebagai wahana pembelajaran praktik bagi
siswa untuk menempa diri dalam membentuk keterampilan
kewirausahaan. Koperasi sekolah adalah Koperasi yang didirikan
12