Page 291 - Bibliospiritual Menemukan Makna Dalam Kata Terbaca
P. 291
masuk, dan wanita itu pun diajak untuk memasukinya. “Ayo
Saudariku, kita ikuti mereka, memasuki pintu itu” ucap
wanita itu sambil berlari-lari kecil. “Lalu ada apa di balik
pintu itu?” tanyanya penasaran sambil ikut serta. “Di
sanalah Surga Allah berada,” dalam larinya yang semakin
mengkelebat. “Tunggu, tunggu aku!” teriaknya. Ia berlari
sekencang yang ia mampu, namun tetap tertinggal. Padahal
wanita yang mengajaknya hanya berlari-lari kecil. Tak
terlihat usaha keras untuk menuju gerbang tersebut.
Ia tetap berlari, terus berlari dan berlari. Dalam
keadaan terengah-engah, ia merasa ada begitu banyak
perbedaan. Yang membuatnya berteriak penasaran.
“Saudariku, aku tak kuasa mengikuti derap langkahmu.
Meskipun kaki ini telah aku paksa untuk berlari sekencang-
kencangnya. Apa yang engkau perbuat, amalan apa itu?
Hingga engkau begitu entengnya?” tanyanya menggelora.
Dan jawaban yang muncul hanyalah senyuman simpul,
disertai ucapan, “Sama halnya seperti engkau, Saudariku.”
Sementara itu, wanita yang sedari tadi ia ajak
berbincang telah sampailah ia di gerbang dimaksud.
Sebelah kakinya menapak, menjejak melewati gerbang.
Setengah badan berusaha segera menjauh, memasuki
gerbang. Dan ditengah-tengah keputus asaan, dalam upaya
yang tidak berujung. Ia kembali berteriak, bertanya penuh
harap. “Apa yang engkau lakukan, amalan apa itu? Yang
tidak aku lakukan.” Lagi-lagi wanita itu tersenyum,
“Perhatikanlah dirimu sendiri! Apa yang membedakan
engkau dengan diriku?” “Apakah engkau mengira jika
Tuhanmu, Allah, mengizinkanmu menapaki surgaNya?
Sementara engkau masih membuka auratmu.” Ketika
tubuhnya semakin menjauh, meninggalkan pintu. Ia pun
menoleh, berkata-kata. Sungguh sayang beribu sayang,
278 | Bibliospiritual: Menemukan Makna dalam Kata Terbaca

