Page 47 - Bimbingan Klasikal Berlandaskan Falsafah Adil Ka’talino, Bacuramin Ka’saruga, Basengat Ka’jubata
P. 47
Untuk mencegah tindakan pelecehan seksual terhadap anak
erat kaitannya dengan makna falsafah ini. Jika siswa tidak ingin
terlibat sebagai pelaku, ketika memahami arti kata falsafah ini
siswa akan memandang bahwa setiap individu harus di hormati
dan siswa tidak akan melakukan pelecehan seksual terhadap
individu lain. Jika falsafah ini di posisikan kepada korban,
korban akan berpandangan bahwa dirinya adalah makhluk
yang mulia dan pantas dihargai, karena tindakan pelecehan
seksual bukanlah sikap menghormati seseorang, melainkan
bentuk penghinaan terhadap orang lain. Dengan demikian
siswa akan berusaha melindungi dirinya dan akan melaporkan
indakan yang dialami kepada orang yang dapat membantu
melindungi kehormatan siswa tersebut.
2. Bacuramin Ka‘ Saruga artinya bercermin kepada surga.
Pandangan ini merujuk kepada sikap adil kepada sesama,
yang dipercaya oleh masyarakat Dayak sebagai jalan menuju
surga. Masyarakat Dayak percaya bahwa terhadap kehidupan
lain selain dunia, yang mereka sebut Subayatn. Kehidupan di
Subayatn sebagai kehidupan di surga. Jika dikaitkan dengan
tindakan pelecehan seksual terhadap anak, maka perbuatan
pelecehan seksual merupakan tindakan dosa karena telah
bersikap tidak adil kepada sesorang dengan tindakan
pelecehan. Pelaku pelecehan seksual akan menanggung dosa
karena telah menyakiti korban.
3. Basengat Ka‘ Jubata artinya bergantung kepada Tuhan.
Masyarakat Dayak percaya bahwa garis kehidupan manusia
telah ditentukan oleh Tuhan. Oleh karena itu masyarakat
Dayak percaya bahwa Tuhan ada dimana saja. Ketika siswa
percaya bahwa Tuhan ada dimana saja, siswa kan
menghindari perbuatan pelecehan seksual.
40 Bimbingan Klasikal Berlandaskan Falsafah
Adil Ka’Talino, Bacuramin Ka’Saruga, Basengat Ka’Jubata