Page 283 - Bibliospiritual Menemukan Makna Dalam Kata Terbaca
P. 283
Sa’id itu menghentak kesadaran Tsa’labah. Ia pun menyesal
“Wahai, celaka dan binasalah aku!”
Berkata begitu, Tsa’labah pun bergegas lari menuju ke
atas bukit, lalu berseru lantang selantang-lantangnya,
“Ya Rabb, Engkau, Engkau, dan aku, aku. Engkau yang selalu
mengampuni dosa dan aku yang selalu melakukan dosa…”
Ketika Rasulullah tiba dari peperangan, semua saudara
yang ditinggal perang oleh saudaranya menyambut
kedatangan mereka, kecuali Tsa’labah. Didorong rasa heran,
Sa’id pun bergegas pulang ke rumahnya dan menanyakan
hal itu kepada istrinya. “Wahai istriku, apa gerangan yang
telah terjadi dengan Tsa’labah, ?” tanya Sa’id. “Wahai
suamiku, ketahuilah, Tsa’labah telah melakukan dosa
karenaku sehingga ia berlari menuju ke atas puncak bukit,”
jawab istrinya. Sa’id pun bergegas menuju bukit. Setiba di
puncak bukit, ia menjumpai Tsa’labah sedang bersujud
dengan meletakkan kedua tangannya pada kepalanya
seraya berseru dengan suara yang begitu keras, “Alangkah
hinanya kedudukan orang yang berbuat maksiat kepada
Tuhannya.”
Perlahan Sa’id mendekati Tsa’labah. Lalu berkata
kepadanya dengan lembut, “Bangkitlah wahai saudaraku,
apakah yang menyebabkan engkau sampai berbuat seperti
ini?” Tsa’labah menjawab, “Aku tidak akan bangkit sebelum
engkau mengikat kedua tanganku pada leherku dan
menuntunku sebagaimana budak yang hina dituntun ke
pintu tuannya.” Berat rasanya Sa’id memenuhi permintaan
saudaranya itu. Namun Sa’id pun akhirnya melakukan apa
yang diminta oleh saudaranya itu. Dituntunlah Tsa’labah ke
rumahnya. Diserahkannya Tsa’labah kepada anaknya yang
bernama Khamshanah.
270 | Bibliospiritual: Menemukan Makna dalam Kata Terbaca

