Page 20 - Revitalisasi Fasilitas Bimbingan dan Konseling di Sekolah
P. 20
Kegagalan dalam memenuhi tuntutan sosial-budaya dapat
mengakibatkan tersingkir dari lingkungannya. Lingkungan sosial-
budaya yang melatarbelakangi dan melingkupi individu berbeda-beda
sehingga menyebabkan perbedaan pula dalam proses pembentukan
perilaku dan kepribadian individu yang bersangkutan. Apabila
perbedaan dalam sosial-budaya ini tidak “dijembatani”, maka tidak
mustahil akan timbul konflik internal maupun eksternal, yang pada
akhirnya dapat menghambat terhadap proses perkembangan pribadi dan
perilaku individu yang besangkutan dalam kehidupan pribadi maupun
sosialnya (Sudrajat, 2008).
Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi interpersonal antara
guru pembimbingan dengan peserta didik, yang mungkin antara guru
pembimbinga dan peserta didik memiliki latar sosial dan budaya yang
berbeda. Ada lima macam sumber hambatan yang mungkin timbul
dalam komunikasi sosial dan penyesuain diri antar budaya (Pederson
dalam Prayitno (2003) yaitu: (a) perbedaan bahasa; (b) komunikasi
non-verbal; (c) stereotipe; (d) kecenderungan menilai; dan (e)
kecemasan. Kurangnya penguasaan bahasa yang digunakan oleh pihak-
pihak yang berkomunikasi dapat menimbulkan kesalahpahaman.
Bahasa non-verbal pun sering kali memiliki makna yang berbeda-beda,
dan bahkan mungkin bertolak belakang. Stereotipe cenderung
menyamaratakan sifat-sifat individu atau golongan tertentu berdasarkan
prasangka subyektif (social prejudice) yang biasanya tidak tepat.
Penilaian terhadap orang lain disamping dapat menghasilkan
penilaian positif tetapi tidak sedikit pula menimbulkan reaksi-reaksi
negatif. Kecemasan muncul ketika seorang individu memasuki
lingkungan budaya lain yang unsur-unsurnya dirasakan asing.
13

