Page 197 - Menelisik Pemikiran Islam
P. 197
upaya memberikan makna dalam kehidupan pribadi dan
nasib bangsa.
Ali Syariati adalah seorang orator yang luar biasa,
lidahnya setajam penanya. Dengan kelihaiannya di kampus
dan masjid-masjid Iran, ia menjadi pusat kegiatan
revolusioner. Oleh karena aktivitas politiknya, pada tahun
1974 Ali Syariati ditangkap. Ia kemudian menjalani tahanan
rumah sampai tahun 1977. Pada bulan Mei 1977, ia
terpaksa meninggalkan Iran menuju ke Inggris untuk
menghindarkan diri dari penguasa. Sebulan kemudian Ali
Syariati tutup usia secara misterius di rumah kerabatnya.
Jenazahnya dikebumikan di Damascus, Suriah. Setahun
kemudian dinasti Fahlavi runtuh dan lahirlah Republik
Islam Iran (16 Januari 1979).
Ali Syariati merupakan tokoh besar di Iran setelah
Ayatullah Ruhullah khoemaini. Walaupun kurang mengusai
kitab-kitab klasik, namun ia mampu menggunakan teori-
teori Barat sebagai pijakan bagi doktrin-doktrin
keagamaan.
Ali Syariati berpendapat bahwa Nabi selalu berpihak
kepada kaum lemah dalam upaya menghancurkan
kekuasaan lalim yang disebut dalam Al-Quran sebagai kaum
Mutrafin. Ia menggunakan istilah Mustadhafin (lemah)
sebagai pengganti istilah proletar dalam teori Karl Marx
dan istilah mustadadafin sebagai pengganti istilah borjuis,
meskipun ia menentang faham moralisme.
Dalam bukunya Marxisme and Other Western Fallacies
(Marxisme dan kekeliruan pemikiran Barat), Ali Syariati
menyatakan bahwa baik marxisme maupun Islam adalah
dua ideologi yang mencakup seluruh dimensi kehidupan
dan pemikiran manusia. Ali Syariati juga secara tegas
190 | Asep Solikin

