Page 204 - Menelisik Pemikiran Islam
P. 204

melihat  Mustofa  Khomeini  menentang  kekuasaan  mereka.
               Setelah itu ia diasuh oleh ibunya Hajar (Agha Kha-num) dan
               Shiba,  bibinya.  Ia  tumbuh  ditengah-tengah  temannya
               dengan kelebihan yang sudah tampak saat itu, baik dalam
               wawasannya  ataupun  dalam  bidang  olahraga.  Sesuai
               dengan  tradisi masyarakat  Iran pada  waktu  itu,  Khomeini
               mengeyam  pendidikan  dasarnya  dari  beberapa  guru  dan
               pemuka  agama  di  kota.  Orang-orang  yang  paling  berjasa
               memberikan  dasar-dasar  pengetahuan  agama  kepadanya
               ialah kakak kandungnya sendiri, Ayatullah Pasandideh.

                   Pada  usia  19  tahun,  ia  melanjukan  pendidikannya  di
               pusat  pendidikan  agama  di  kota  atau  Hauzah  I’lmiyah
               (istilah bagi pola atau metode pendidikan agama tradisional
               di  lingkungan  masyarakat  Syiah,  baik  di  Iran  maupun  di
               Iran, yang masih dipertahankan hingga kini) yang terdapat
               di  kota  Iran.  Pendidikannya  ini  langsung  di  bawah
               bimbingan  Ayatullah  Abdul  Karim  Hairi  Yazdi,  seorang
               ulama  terkemuka  dalam  ma-sanya  dan  mempunyai  andil
               besar dalam mengembangkan Hauzah I’lmiah di kota Qum.,
               Iran.  Setahun  kemudian,  bersama  gurunya  ia  pindah  ke
               Hauzah I’lmiah di kota Qum. Di kota itu, selain mendalami
               ilmu  figh,  ia  pun  men-dalami  ilmu  filsafat  dan  ‘irfan  (asal
               kata  dari  ma’rifah=mengenal  tu-han).  Dalam  dua  bidang
               terakhir,  Khomeini  belajar  langsung  dari  syekh  Muham-
               mad Ali Syi’ah Abadi, seoarng filsuf yang Arif dan terkenal
               dari Iran.

                   Dalam  usia  yang  relatif  muda,  ia  mencapai  tingkat
               mujtahid dalam hukum Islam (dalam tradisi syiah, tingkat
               itu  diperlukan  persyaratan  yang  cukup  sulit,  baik  ahlak
               maupun  keluasan  pengetahuan).  Dengan  demikian,  ia
               mempunyai  wewenang  untuk  mengeluarkan  fatwa-fatwa
               yang kemudian dianut oleh masyarakat syiah. Oleh karena

                                             Menelisik Pemikiran Islam | 197
   199   200   201   202   203   204   205   206   207   208   209