Page 299 - Menelisik Pemikiran Islam
P. 299
bahwa pemikir Muslim telah berhasil mengembangkan
watak kosmopolitan dalam pandangan budaya dan
keilmuan mereka, karena mampu saling berdialog secara
demikian bebas.
Kebebasan kaum Mu'tazilah untuk mempertanyakan
kebenaran ajaran sentral bahwa al-Qur'an turun dalam
bentuk huruf dan bahasa yang sekarang dikenal (bahasa
Arab, huruf Hija'iyyah) dan menganggap Kitab Suci kaum
Muslim tersebut diturunkan hanya secara maknawi belaka,
sesuatu yang sekarang tentunya dianggap sikap seorang
murtad dari agama Islam, adalah dari pertanda kuatnya
watak kosmopolitan dari peradaban Islam waktu itu.
Pertanyaan bagaimanapun gilanya mendapatkan peluang
untuk diutarakan dengan bebas. Dalam situasi seperti itu
tokh tidak ada bahaya apapun bagi Islam, karena proses
dialog serba dialektik akan memunculkan koreksi
budayanya sendiri, yang dalam kasus Mu'tazilah mengambil
bentuk koreksi al-Asy'ari, al-Maturidi dan al-Baqillani yang
berujung pada ilmu kalam skolastik dari kaum Sunni.
Koreksi itupun memperlihatkan watak kosmopolitan,
karena ia tidak muncul sebagai hardikan atau tuntutan
ilegal-yuridis, melainkan sebagai perdebatan ilmiah yang
tidak mengambil sikap mengadili atau menghakimi. Baru
ketika kemapanan masyarakat Islam mengambil tindakan
melarang perdebatan ilmiah sajalah, sambil
memproklamasikan ajaran-ajaran al-Asy'ari dan kawan-
kawan sebagai kebenaran ajaran Islam, watak
kosmopolitan dari peradaban Islam mulai terputus dengan
sendirinya.
Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa
kosmopolitanisme peradaban Islam tercapai atau berada
pada titik optimal, manakala tercapai keseimbangan antara
292 | Asep Solikin

