Page 300 - Menelisik Pemikiran Islam
P. 300

kecenderungan  normatif  kaum  Muslim  dan  kebebasan
               berpikir semua warga masyarakat (termasuk mereka yang
               non-Muslim).   Kosmopolitanisme   seperti   itu   adalah
               kosmopolitanisme yang kreatif, karena di dalamnya warga
               masyarakat  mengambil  inisiatif  untuk  mencari  wawasan
               terjauh dari keharusan berpegang pada kebenaran. Situasi
               kreatif yang memungkinkan pencarian sisi-sisi paling tidak
               masuk  akal  dari  kebenaran  yang  ingin  dicari  dan
               ditemukan, situasi cair yang memaksa universalisme ajaran
               Islam untuk terus-menerus mewujudkan diri dalam bentuk-
               bentuk  nyata,  bukannya  nyata  dalam  postulat-postulat
               spekulatif  belaka.  Benarkah  ajaran  Islam  menjamin
               persamaan  hak  dan  derajat  di  antara  sesama  warga
               masyarakat?  Mungkinkah  keadilan  diwujudkan  secara
               konkrit dalam bentuk kemasyarakatan faktual? Jarak yang
               demikian  sempit  antara  kebebasan  berfikir  di  satu  pihak
               dan  imperatif  norma-norma  ajaran  agama  memerlukan
               upaya  luar  biasa  dari  para  pemikir,  budayawan  dan
               negarawan  untuk  menjaga  jarak  antara  keduanya,  agar
               tidak   saling   menghimpit.   Ketegangan   intelektual
               (intellectual tension) yang mewarnai situasi seperti itu akan
               memotori kosmopolitanisme yang menjadi keharusan bagi
               universalisasi nilai-nilai luhur yang ditarik dari ajaran Islam
               secara keseluruhan.
                    Dalam  semangat  seperti  itulah  para  zahid  (kaum
               asketik) Muslim dahulu mengembangkan peradaban Islam.
               Imam  Hasan  al-Basri  yang  demikian  dalam  tasawufnya,
               ternyata  juga  adalah  ilmuwan  di  bidang  bahasa.  Imam  al-
               Khalil  ibn  Ahmad  al-Farahidi  yang  dengan  kesalehannya
               yang  luar  biasa,  ternyata  adalah  peminat  filsafat  Yunani
               kuno,  terbukti  dari  karya  agung  beliau,  Qamus  al-A'ain,
               yang   sepenuhnya    menggunakan     pembagian    ilmu


                                             Menelisik Pemikiran Islam | 293
   295   296   297   298   299   300   301   302   303   304   305