Page 132 - Bimbingan Karir Paradigma, Dimensi, dan Problematika Perencanaan Karir
P. 132
tertentu guru sering diperankan pada posisi yang ganda
bahkan multi fungsi. Mereka dituntut tidak hanya sebagai
pendidik akan tetapi harus dapat menstranformasikan nilai-
nilai etika dan moral serta pengetahuan bahkan penjaga
moral bagi anak didik. Dalam kontek budaya Jawa kata guru
sering dikonotasikan sebagai kepanjangan dari kata “ digugu
dan ditiru” atau menjadi panutan utama baik di sekolah
maupun dimasyarakat. Kalau dilihat dari filosofi tersebut guru
ditempatkan pada posisi yang mulia sekaligus memberikan
nilai psikologis bagi para guru baik secara personal maupun
professional.
Masalah tersebut merupakan aspek etik dan moral yang
secara abadi merupakan predikat yang tidak dapat diubah
oleh masyarakat, sebab ini merupakan pandangan yang
terlanjur melekat pada kehidupan masyarakat dan bangsa
Indonesia. Namun dari sisi lain guru menghadapi banyak
hal khususnya berkaitan dengan peran dan tugas sebagai
profesi. Profesio-nalisme sebagai guru tidak hanya karena
faktor tuntutan jaman dan globalisasi dunia, akan tetapi pada
dasarnya merupakan keharusan bagi setiap individu guru
untuk perbaikan kualitas hidup manusia sebagai makhluk
sosial. Profesionalisme guru menuntut keseriusan dan
kompetensi yang memadai, sehingga guru dianggap layak
untuk melaksanakan tugas secara professional. Ada beberapa
langkah yang strategis dalam rangka meningkatkan serta
mengembangkan kompetensi guru menuju jenjang karir yang
lebih baik dan layak yaitu:
1. Sertifikasi sebagai sebuah sarana karir
Salah satu upaya untuk meningkatkan profesio-nalisme
dalam karir guru diwajibkan menempuh proses ilmiah yang
memerlukan pertanggung jawaban akademik, salah satunya
melalui sertifikasi. Melalui sertifikasi tercermin adanya
uji kelayakan dan kepatutan yang harus dijalani oleh guru
dengan kriteria yang secara ideal telah ditetapkan. Sertifikasi
guru merupakan amanah dari UU Sikdiknas pasal 42 yang
Paradigma, Dimensi, dan Problematika Perencanaan Karir 119

