Page 136 - Bimbingan Karir Paradigma, Dimensi, dan Problematika Perencanaan Karir
P. 136
nilai-nilai kemanusiaan. Selain itu, telah terjadi pengkerdilan
dari perilaku yang kompleks kedalam sub skill yang lebih
sederhana, serta melumpuhkan belajar kreatif, mengabaikan
perbedaan individu dan mendorong “pengajaran untuk tes”
yang mekanistik.
Dengan demikian, kompetensi mengalami kejatuhan
pada periode ini. Kompetensi dipandang hanya memfokuskan
pada performansi dengan mengorbankan proses intelektual
yang kompleks dan refleksi yang sedang berlangsung. Selain
itu, kerangka kerja kompetensi berdasarkan pendekatan
behavioristik cenderung terlalu kompleks, birokratis dan
susah untuk diberikan. Kegunaannya dipertanyakan manakala
daftar kompetensi menjadi terdiferensiasikan secara lebih
baik lagi.
3. Kemunculan kembali Pendekatan Kompetensi
Periode selanjutnya muncul kembali tren pendekatan
berbasis kompetensi di Eropa, khususnya dalam bidang
Human Resource Development (HRD) dan Vocational
Education and Training (VET). Hal ini berpengaruh pada
bidang lainnya termasuk bimbingan karir.
Alasan yang mendukung pendekatan berbasis kompetensi
muncul kembali kepermukaan di Eropa diantaranya adalah
pendapat Delamare-Le Deist dan Witerton (2005) mencatat
bahwa: a) Dunia usaha berusaha untuk mengidentifikasi
kompetensi-kompetensi baru yang mereka perlukan. b)
Mengubah tekanan pada pendidikan dan system pelatihan
untuk merespon pada profil keterampilan yang mereka
perlukan.
Pendekatan kompetensi periode ini memiliki kegunaan
ekonomis dan sosial, di mana pendekatan ini memfasilitasi
identifikasi dan validasi dari kompetensi tacit (diam-diam)
yang diperoleh melalui pengalaman, yang mendukung usaha-
usaha untuk menutupi kekurangan keterampilan sambil
memberikan kesempatan baru dan rekrutmen bagi mereka
Paradigma, Dimensi, dan Problematika Perencanaan Karir 123

