Page 267 - Menelisik Pemikiran Islam
P. 267
merupakan asal kejadian manusia, yang menjadi satu
dengan dirinya melalui intuisi, hati kecil, hati nurani, dan
lain-lain, diperkuat oleh agama, yang disebut Ibn
Taymiyyah sebagai "fithrah yang diturunkan" (al-fithrah al-
munazzalah). Maka metodologi kaum Kalam baginya adalah
sesat.
Yang amat menarik ialah bahwa epistemologi Ibn
Taymiyyah Yang Hanbali berdasarkan fithrah itu paralel
dengan epistemologi Abu Ja'far Muhammad ibn Ali ibn al-
Husayn Babwayh al-Qummi (wafat 381 H), seorang "ahli
Ilmu Kalam" terkemuka kalangan Syi'ah. Al-Qummi, dengan
mengutip berbagai hadits, memperoleh penegasan bahwa
pengetahuan tentang Tuhan diperoleh manusia melalui
fitrah-nya, dan hanya dengan adanya fitrah itulah manusia
mendapat manfaat dari bukti-bukti dan dalil-dalil. Maka
sejalan dengan itu, Ibn Taymiyyah menegaskan, bahwa
pangkal iman dan ilmu ialah ingat (dzikr) kepada Allah.
"Ingat kepada Allah memberi iman, dan ia adalah pangkal
iman.... pangkal ilmu.”
B. Pemikiran Teologi Islam
Perkataan teologi tidak berasal dari khazanah dan
tradisi agama Islam. Ia istilah yang diambil dari agama lain,
yaitu dari khazanah dan tradisi Gereja Kristiani. Hal ini
tidaklah dimaksudkan untuk menolak pemakaian kata
teologi itu. Sebab pemungutan suatu istilah dari khazanah
dan tradisi agama lain tidaklah harus dipandang sebagai
sesuatu yang negatif, apalagi jika istilah tersebut bisa
memperkaya khazanah dan membantu
mensistematisasikan pemahaman kita tentang Islam. Kata
teologi sebagaimana dijelaskan dalam Encyclopaedia of
Religion and Religions berarti "ilmu yang membicarakan
260 | Asep Solikin

