Page 269 - Menelisik Pemikiran Islam
P. 269
sebagian dari kita-- mengenal atau pernah diberi pelajaran
ilmu tauhid. Biasanya, dalam mempelajari ilmu tersebut,
pertama-tama kita diperkenalkan dengan apa yang disebut
sebagai "hukum akal." Hal ini bisa kita baca dalam buku
buku ilmu tauhid, dari yang sangat tradisional hingga yang
termasuk modern seperti buku Risalah Tawhid karya
Muhammad Abduh, misalnya.
Melalui kategori-kategori yang dirumuskan sebagai
hukum akal itu, yakni: wajib, mustahil dan harus, kita diajak
memahami tentang konsep ketuhanan dan kenabian. Maka
kita pun mengetahui sifat-sifat Tuhan dan Nabi-nabi, baik
yang dikategorikan sebagai sifat-sifat yang wajib, sifat-sifat
yang mustahil maupun sifat-sifat yang harus. Masalah-
masalah lain seperti kepercayaan tentang malaikat, kitab-
kitab wahyu, hari akhirat maupun qadla dan qadar, adalah
kelanjutan atau pelengkap dari kepercayaan terhadap
Tuhan dan Kenabian tersebut. Pembahasan tentang dan di
sekitar hal-hal inilah yang selama ini disebut sebagai ilmu
tauhid.
Jelas sekali pembahasan tentang teologi sebagaimana
terdapat dalam ilmu tauhid sangat intelektualistik sifatnya.
Lebih-lebih kalau kita memasuki pembahasan yang lebih
rumit, terutama ketika membicarakan sifat-sifat Tuhan,
yang selama ini dikenal sebagai "sifat dua puluh." Dalam
membahas sifat dua puluh itu, muncul berbagai konsep
seperti sifat nafsiyah, Salbiyah, ma'ani dan sifat
ma'nawiyah. Juga dikemukakan pembahasan tentang kaitan
atau ta'alluq sifat-sifat Tuhan dengan alam ini, dan
muncullah konsep-konsep tentang ta'alluq ma'iyah, ta'alluq
ta'tsir, ta'alluq hukmiyah, ta'alluq bi 'l-quwwah, ta'alluq
shuluhi qadim, ta'allaq tanjizi qadim, ta'alluq tanjizi hadits.
262 | Asep Solikin

