Page 270 - Menelisik Pemikiran Islam
P. 270
Kebanyakan dari kita tentu tidak akrab dengan istilah-
istilah atau konsep -konsep tersebut.
Dengan mengemukakan hal itu ingin diturunkkan
betapa jauhnya teologi yang dibahas dalam buku-buku ilmu
tauhid dengan dunia praktis, dengan problematika
kemanusiaan. Teologi semacam itu adalah teologi yang
steril dan mandul. Ia tidak mempunyai relevansi dengan
realitas kehidupan kita. Teologi semacam itu tidaklah
membuahkan elan vital (gairah hidup). Ia tidak melahirkan
innerforce (kekuatan batin), moral maupun spiritual, yang
membuat kita bergairah dalam aksi untuk membebaskan
diri kita dan masyarakat sekitar kita dari segala bentuk
kemusyrikan.
Bentuk-Bentuk Kemusyrikan
Dalam memahami ide tauhid, ada baiknya bila kita
memahamin apa-apa yang oleh al-Qur'an dianggap sebagai
syirik atau kemusyrikan. Al Qur'an mengemukakan dua ciri
utama dari kemusyrikan, yakni, pertama, menganggap
Tuhan mempunyai syarik atau sekutu, dan kedua,
menganggap Tuhan mempunyai andad atau saingan. Kedua
ciri utama itu wujud dalam berbagai bentuk manifestasi.
Kalau kita mendengar perkataan syirik atau
kemusyrikan yang segera terbayang dalam angan-angan
kita biasanya penyembahan berhala, seperti dilakukan para
penganut agama-agama "pagan." Dan memang al-Qur'an
sendiri menyinggung bahkan mengecam orang-orang yang
menjadikan berhala sebagai ilah atau sesembahan (QS.
6:74; 7:138; 21:52). Selain berhala al-Qur'an juga
mengemukakan hal-hal lain yang bisa dijadikan obyek
sesembahan selain Tuhan, misalnya penyembahan benda-
benda langit seperti matahari, bulan dan bintang (QS.
Menelisik Pemikiran Islam | 263

