Page 277 - Menelisik Pemikiran Islam
P. 277

menilai bahwa falsafah Islam adalah carbon copy pemikiran
            Yunani atau Hellenisme.
                 Meskipun begitu, kenyataannya ialah bahwa kata Arab
            "falsafah"  sendiri  dipinjam  dari  kata  Yunani  yang  sangat
            terkenal,  "philosophia",  yang  berarti  kecintaan  kepada
            kebenaran  (wisdom).  Dengan  sedikit  perubahan,  kata
            "falsafah"  itu  di-Indonesia-kan  menjadi  "filsafat"  atau,
            akhir-akhir  ini,  juga  "filosofi"  (karena  adanya  pengaruh
            ucapan  Inggris,  "philosophy").  Dalam  ungkapan  Arabnya
            yang lebih "asli", cabang ilmu tradisional Islam ini disebut
            'ulum  al-hikmah  atau  secara  singkat  "alhikmah"  (padanan
            kata  Yunani  "sophia"),  yang  artinya  ialah  "kebijaksanaan"
            atau,  lebih  tepat  lagi,  "kawicaksanaan"  (Jawa)  atau
            "wisdom"  (Inggris).  Maka  "failasuf'  (ambilan  dari  kata
            Yunani  "philosophos",  pelaku  filsafat),  disebut  juga  "al-
            hakim" (ahli hikmah atau orang bijaksana), dengan bentuk
            jamak "al-hukama".
                 Dari  sepintas  riwayat  kata  "filsafah"  itu  kiranya
            menjadi jelas bahwa disiplin ilmu keislaman ini, meskipun
            memiliki  dasar  yang  kokoh  dalam  sumber-sumber  ajaran
            Islam  sendiri,  banyak  mengandung  unsur-unsur  dari  luar,
            yaitu  terutama  Hellenisme  atau  dunia  pemikiran  Yunani.
            Disinilah  pangkal  kontroversi  yang  ada  sekitar  falsafah:
            sampai di mana agama Islam mengizinkan adanya masukan
            dari  luar,  khususnya  jika  datang  dari  kalangan  yang  tidak
            saja bukan "ahl al-kitab" seperti Yahudi dan Kristen, tetapi
            malahan dari orang-orang Yunani kuna yang "pagan" atau
            musyrik  (penyembah  binatang).  Sesungguhnya  beberapa
            ulama ortodoks, seperti Ibn Taymiyyah dan Jalal al-Din al-
            Suyuthi  (salah  seorang  pengarang  tafsir  Jalalayn),
            menunjuk  kemusyrikan  orang-orang  Yunani  itu  sebagai
            salah  satu  alasan  keberatan  mereka  terhadap  falsafah.

            270 | Asep Solikin
   272   273   274   275   276   277   278   279   280   281   282