Page 282 - Menelisik Pemikiran Islam
P. 282

Muslim.  Ini  menunjukkan  tidak  saja  kebebasan
                   intelektual  yang  terdapat  di  mana-mana  di  bawah
                   pemerintahan    Islam   zaman   itu,   tetapi   juga
                   membuktikan  kecintaan  orang-orang  Muslim  kepada
                   ilmu  dan  sikap  hormat  yang  mereka  berikan  kepada
                   para sarjana tanpa mempedulikan agama mereka).
                   Interaksi  intelektual  itu  memperoleh  wujudnya  yang
               nyata  semenjak  masa  dini  sekali  sejarah  Islam.  Disebut-
               sebut  bahwa al-Harits  ibn  Qaladah, seorang  Sahabat  Nabi,
               sempat mempelajari ilmu kedokteran di Jundisapur, Persia,
               tempat  berkumpulnya  beberapa  failasuf  yang  dikutuk
               gereja  Kristen  karena  dituduh  telah  melakukan  bid'ah.
               Disebut-sebut juga bahwa Khalid ibn Yazid (ibn Mu'awiyah)
               dan  Ja'far  al-Shadiq  sempat  mendalami  alkemi  (al-kimya)
               yang  menjadi  cikal-bakal  ilmu  kimia  moderen.  Bahkan
               seorang  khalifah  Bani  Umayyah,  Marwan  ibn  al-Hakam
               (683-685  M),  memerintahkan  agar  buku  kedokteran  oleh
               Harun,   seorang    dokter   dari   Iskandaria   Mesir,
               diterjemahkan dari bahasa Suryani (Syriac) ke bahasa Arab.

                   Harus  diketahui  bahwa  dalam  pembagian  ilmu
               pengetahuan  zaman  itu,  baik  ilmu  kedokteran  maupun
               alkemi,   sebagaimana   juga   metafisika,   matematika,
               astronomi,  bahkan  musik  dan  puisi,  dan  seterusnya,
               termasuk  falsafah.  Sebab  istilah  falsafah  itu,  dalam
               pengertiannya  yang  luas,  mencakup  bidang-bidang  yang
               sekarang  bisa  disebut  sebagai  "ilmu-pengetahuan  umum",
               yakni,  bukan  "ilmu  pengetahuan  agama",  yaitu  dunia
               kognitif yang dasar perolehannya bukan wahyu tetapi akal,
               baik  yang  dari  penalaran  deduktif  maupun  yang  dari
               penyimpangan  empiris.  Ini  penting  disadari,  antara  lain
               untuk  dapat  dengan  tepat  melihat  segi-segi  mana  dari
               sistem falsafah itu yang kontroversial karena dipersoalkan

                                             Menelisik Pemikiran Islam | 275
   277   278   279   280   281   282   283   284   285   286   287