Page 284 - Menelisik Pemikiran Islam
P. 284
yang sebenarnya ada (ousia), jadi juga yang abadi dan tak
berubah. Termasuk diantara yang akali itu ialah konsep
tentang "Yang Baik", yang berada di atas semuanya dan
disebut sebagai berada di luar yang ada (beyond being,
epekeina ousias). "Yang Baik" ini kemudian diidentifikasi
sebagai "Yang Esa", yang tak terjangkau dan tak mungkin
diketahui.
Selanjutnya, mengenai wujud inderawi, Plato
menyebutkannya sebagai hasil kerja suatu "seniman ilahi"
(divine artisan, demiurge) yang menggunakan wujud
kosmos yang akali sebagai model karyanya. Disamping
membentuk dunia fisik, demiurge juga membentuk jiwa
kosmis dan jiwa atau ruh individu yang tidak akan mati.
Jiwa kosmis dan jiwa individu yang immaterial dan
substansial itu merupakan letak hakikatnya yang bersifat
ada sejak semula (pre-existence) dan akan ada untuk
selamanya (post-existence immortality), yang semuanya
tunduk kepada hukum reinkarnasi.
Dari Aristoteles, unsur terpenting yang diambil
Plotinus ialah doktrin tentang Akal (nous) yang lebih tinggi
daripada semua jiwa. Aristoteles mengisyaratkan bahwa
hanya Akal-lah yang tidak bakal mati (immortal),
sedangkan wujud lainnya hanyalah "bentuk" luar, sehingga
tidak mungkin mempunyai eksistensi terpisah. Aristoteles
juga menerangkan bahwa "dewa tertinggi" (supreme deity)
ialah Akal yang selalu merenung dan berpikir tentang
dirinya. Kegiatan kognitif Akal itu berbeda dari kegiatan
inderawi, karena obyeknya, yaitu wujud akali yang
immaterial, adalah identik dengan tindakan Akal untuk
menjangkau wujud itu.
Menelisik Pemikiran Islam | 277

