Page 289 - Menelisik Pemikiran Islam
P. 289

kitabnya, Naqdl al-Manthiq dan al-Suyuthi dengan kitabnya,
            Shawn  al-Mantiq  wa  al-Kalam  'an  Fann  al-Manthiq  wa  al-
            Kalam). Tetapi bahkan al-Ghazali pun, meski telah berusaha
            menghancurkan  falsafah  dari  segi  metafisikanya,  adalah
            seorang  pembela  ilmu  mantiq  yang  gigih,  dengan  kitab-
            kitabnya  seperti  Mi'yar  al-Ilm  dan  Mihakk  al-Nadhar.
            Bahkan  kitabnya,  al-Qisthas  al-Mustaqim,  dinilai  dan
            dituduh  Ibn  Taymiyyah  sebagai  usaha  pencampur-adukan
            tak  sah  ajaran  Nabi  dengan  falsafah  Aristoteles,  karena
            uraian-uraian keagamaannya, dalam hal ini ilmu fiqh, yang
            menggunakan sistem ilmu mantiq.
                 Tetapi,  seperti  telah  dikemukakan  di  atas,  adalah
            mustahil  melihat  falsafah  Islam  sebagai  carbon  copy
            Hellenisme.  Misalnya,  meskipun  terdapat  variasi,  tetapi
            semua pemikir Muslim berpandangan bahwa wahyu adalah
            sumber  ilmu  pengetahuan,  dan,  karena  itu,  mereka  juga
            membangun  berbagai  teori  tentang  kenabian  seperti  yang
            dilakukan Ibn Sina dengan risalahnya yang terkenal, Itsbat
            al-Nubuwwat.  Mereka  juga  mencurahkan  banyak  tenaga
            untuk membahas kehidupan sesudah  mati, suatu  hal  yang
            tidak  terdapat  padanannya  dalam  Hellenisme,  kecuali
            dengan sendirinya pada kaum Hellenis Kristen. Para failasuf
            Muslim juga membahas masalah baik dan buruk, pahala dan
            dosa,  tanggungjawab  pribadi  di  hadapan  Allah,  kebebasan
            dan  keterpaksaan  (determinisme),  asal  usul  penciptaan,
            dan  seterusnya,  yang  kesemuanya  itu  merupakan  bagian
            integral  dari  ajaran  Islam,  dan  sedikit  sekali  terdapat  hal
            serupa dalam Hellenisme.
                 Lebih  lanjut,  falsafah  kemudian  mempengaruhi  ilmu
            kalam.  Meski  begitu,  lagi-lagi,  tidaklah  benar  memandang
            ilmu  kalam  sebagai  jiplakan  belaka  dari  falsafah.  Justru



            282 | Asep Solikin
   284   285   286   287   288   289   290   291   292   293   294