Page 288 - Menelisik Pemikiran Islam
P. 288
Maka cukup menarik bahwa sementara orang-orang
Muslim begitu sadar tentang Aristoteles dan apa yang
mereka anggap sebagai ajaran-ajarannya, namun mereka
tidak sadar, atau sedikit sekali mengetahui adanya unsur-
unsur Neoplatonis didalamnya. Ini menyebabkan sulitnya
membedakan antara kedua unsur Hellenisme yang paling
berpengaruh kepada falsafah Islam itu, karena memang
terkait satu sama lainnya.
Sekalipun begitu masih dapat dibenarkan melihat
adanya pengaruh khas Neoplatonisme dalam dunia
pemikiran Islam, seperti yang kelak muncul dengan jelas
dalam berbagai paham Tasauf. Ibn Sina, misalnya, dapat
dikatakan seorang Neoplatonis, disebabkan ajarannya
tentang mistik perjalanan ruhani menuju Tuhan seperti
yang dimuat dalam kitabnya, Isharat. Dan memang
Neoplatonisme yang spiritualistik itu banyak mendapatkan
jalan masuk ke dalam ajaran-ajaran Sufi. Yang paling
menonjol ialah yang ada dalam ajaran sekelompok orang-
orang Muslim yang menamakan diri mereka Ikhwan al-
Shafa (secara longgar: Persaudaraan Suci).
Demikian pula, kita sepenuhnya dapat berbicara
tentang pengaruh besar Aristotelianisme, yaitu dari sudut
kenyataan bahwa kaum Muslim banyak memanfaatkan
metode berpikir logis menurut logika formal (silogisme)
Aristoteles. Cukup sebagai bukti betapa jauhnya pengaruh
ajaran Aristoteles ini ialah populernya ilmu mantiq di
kalangan orang-orang Islam. Sampai sekarang masih ada
dari kalangan 'ulama' kita yang menulis tentang mantiq,
seperti K.H. Bishri Musthafa dari Rembang, dan ilmu mantiq
masih diajarkan di beberapa pesantren. Memang telah
tampil beberapa 'ulama' di masa lalu yang mencoba
meruntuhkan ilmu mantiq (seperti Ibn Taymiyyah dengan
Menelisik Pemikiran Islam | 281

