Page 283 - Menelisik Pemikiran Islam
P. 283

oleh  kalangan  ortodoks.  Umumnya  mereka  ini,  seperi  Ibn
            Taymiyyah  dan  lain-lain, menolak  yang  bersifat penalaran
            murni dan deduktif, dalam hal ini khususnya metafisika (al-
            falsafah  al-ula),  karena  dalam  banyak  hal  menyangkut
            bidang  yang  bagi  mereka  merupakan  wewenang  agama.
            Tetapi mereka membenarkan yang induktif dan empiris.
                 Neoplatonisme
                 Dari berbagai unsur pikiran Hellenik, Platonisme Baru
            (Neoplatonisme)   adalah   salah   satu   yang   paling
            berpengaruh  dalam  sistem  falsafah  Islam.  Neoplatonisme
            sendiri  merupakan  falsafah  kaum  musyrik  (pagans),  dan
            rekonsiliasinya  dengan  suatu  agama  wahyu  menimbulkan
            masalah  besar.  Tapi  sebagai  ajaran  yang  berpangkal  pada
            pemikiran Plotinus (205-270 M), sebetulnya Neoplatonisme
            mengandung  unsur  yang  memberi  kesan  tentang  ajaran
            Tauhid.  Sebab  Plotinus  yang  diperkirakan  sebagai  orang
            Mesir  hulu  yang  mengalami  Hellenisasi  di kota  Iskandaria
            itu  mengajarkan  konsep  tentang  "yang  Esa"  (the  One)
            sebagai  prinsip  tertinggi  atau  sumber  penyebab  (sabab,
            cause).  Lebih  dari  itu,  Plotinus  dapat  disebut  sebagai
            seorang mistikus, tidak. dalam arti "irrasionalis", "occultist"
            ataupun  "guru  ajaran  esoterik",  tetapi  dalam  artinya  yang
            terbatas kepada seseorang yang mempercayai dirinya telah
            mengalami  penyatuan  dengan  Tuhan  atau  "Kenyataan
            Mutlak.  Untuk  memahami  sedikit  lebih  lanjut  ajaran
            Plotinus kita  perlu memperhatikan  beberapa  unsur  dalam
            ajaran-ajaran  Plato,  Aristoteles,  Pythagoras  (baru)  dan
            kaum Stoic.

                 Plato membagi kenyataan kepada yang bersifat "akali"
            (ideas,  intelligibles)  dan  yang  bersifat  "inderawi"
            (sensibles),  dengan  pengertian  bahwa  yang  akali  itulah


            276 | Asep Solikin
   278   279   280   281   282   283   284   285   286   287   288