Page 285 - Menelisik Pemikiran Islam
P. 285

Dualisme  Plato  di  atas  kemudian  diusahakan
            penyatuannya  oleh  para  penganut  Pythagoras  (baru),  dan
            dirubahnya menjadi monisme dan berpuncak pada konsep
            tentang adanya Yang Esa dan serba maha (transenden). Ini
            melengkapi  ajaran  kaum  Stoic  yang  di  samping
            materialistik  tapi  juga  immanenistik,  yang  mengajarkan
            tentang  kemahaberadaan  (omnipresence)  Tuhan  dalam
            alam raya.

                 Kesemua  unsur  tersebut  digabung  dan  diserasikan
            oleh Plotinus, dan menuntunnya kepada ajaran tentang tiga
            hypostase atau prinsip di atas materi, yaitu Yang Esa atau
            Yang Baik, Akal atau Intelek, dan Jiwa.

                 Aristotelianisme
                 Telah dinyatakan bahwa Neoplatonisme cukup banyak
            mempengaruhi     falsafah   Islam.   Tetapi   sebenarnya
            Neoplatonisme yang sampai ke tangan orang-orang Muslim,
            berbeda  dengan  yang  sampai  ke  Eropa  sebelumnya,  yang
            telah tercampur dengan unsur-unsur kuat Aristotelianisme.
            Bahkan sebetulnya para failasuf Muslim justru memandang
            Aristoteles sebagai "guru pertama" (al-mu'allim al-awwal),
            yang  menunjukkan  rasa  hormat  mereka  yang  amat  besar,
            dan dengan begitu juga pengaruh Aristoteles kepada jalan
            pikiran para failasuf Muslim yang menonjol dalam falsafah
            Islam.

                 Neoplatonisme sendiri, sebagai gerakan, telah berhenti
            semenjak jatuhnya Iskandaria di tangan orang-orang Arab
            Muslim  pada  tahun  642.  Sebab  sejak  itu  yang  ada  secara
            dominan  ialah  falsafah  Islam,  yang  daerah  pengaruhnya
            meliputi hampir seluruh bekas daerah Hellenisme.




            278 | Asep Solikin
   280   281   282   283   284   285   286   287   288   289   290