Page 79 - Revitalisasi Fasilitas Bimbingan dan Konseling di Sekolah
P. 79
Fasilitas untuk kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling di
berbagai jenjang pendidikan secara umum kurang memadai, walaupun
sebagian besar sarana dan prasarana sudah tersedia, namun kondisi
yang dimiliki belum memenuhi standar, hal ini digambarkan sebagai
berikut.
Dari segi prasarana, berupa ruangan BK luasnya cukup beragam di
2
setiap sekolah/madrasah; ada yang luasnya = 4 x 8 m , ada yang
2
2,
luasnya = 9 x 8 m , ada yang luasnya = 3 x 8 m , ada yang luasnya = 5
2 2, 2,
x 8 m , ada yang luasnya = 8 x 8 m , dan ada yang luasnya = 8 x 8 m .
Kondisi bangunan (fisik) ada yang permanen dan semi permanen,
meskipun dikatakan permanen tapi kondisinya sangat memprihatinkan,
karena bekas gudang yang difungsikan. Jumlah ruangannya ada yang
hanya satu saja dan bersifat terbuka tanpa disertai pembatas. Ruang ini
berfungsi sebagai ruang konsultasi/konseling/ ruang kerja konselor,
ruang penerima tamu, ruang gudang dan ruang dokumentasi.
Disisi lain, juga ada ruangan yang mempunyai pembatas, tetapi
pembatasnya dengan lemari dan itupun ada yang dibatasi satu lemari
dan ada yang dua lemari. Ada juga ruangan yang terpisah-pisah
letaknya, tetapi terbatas untuk kegiatan layanan konseling maupun
konsultasi. Sedangkan letak ruang BK, ada yang berada di tengah-
tengah antara ruang kepala sekolah, guru-guru dan tata usaha sekolah,
ada yang berada diantara antar kelas-kelas, ada juga ruangnya
dipojok/sudut sekolah tanpa disertai adanya pembatas.
Analisis observasi menunjukkan bahwa sarana merupakan salah satu
penunjang dari kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling.
Keberadaan sarana menjadi ujung tombak proses pemberian layanan
bimbingan dan konseling yang efektif. hasil analisis temuan pada
72

